Kamis, 05 Januari 2012

JENIS-JENIS BERBICARA


KATA PENGANTAR

Ass. . . wr. . . wb. . .
Puji syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat serta hidayatnya sehingga makalah ini dapat diselesaikan walaupun belum sesempurna mungkin. Salawat serta salam senantiasa kita kirimkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw. Yang telah mengajarkan kepada seluruh umatnya bahwa sesungguhnya Ilmu dan Pengetahuannya adalah sarana untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.
Makalah ini berjudul “Motivasi Guru dalam Pemerolehan Bahasa kedua (B2)” dapat dibuat sebagai upaya untuk mempermudah mahasiswa dalam menyusun makalah seperti ini, bagi setiap yang membaca tugas ini, saya minta saran dan kritiknya bagi siapa yang membacanya. Makalah ini lebih terarah dan terlaksana dengan baik serta berguna bagi pembacanya / kepada seluruh pihak.

Wallahulmuwafiek ila’aqwamutharieq. Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Dompu,      januari  2012
JENIS-JENIS BERBICARA
BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Bahasa adalah lambang bunyi yang diucapkan.kenyataan inilah yang menempatkan keterampilan berbicara itu sebagai keterampilan berbahasa yang utama. Para ahli linguistik menempatkan keterampilan berbicara seorang anak  (secara alamiah) menempatkan keterampilan berbicara (speaking) pada urtan kedua.ini berarti, sebelum keterampilan membaca dan keterampilan menulis anak terlebih dahulu harus dapat berbicara. Melalui keterampilan berbicaralah manusia pertama dapat memenuhi keperluan untuk berkomunikasi dengan lingkungan masyarakat tempat ia berada.
Belajar keterampilan berbicara harus dilaksanakan dengan menciptakan situasi belajar yang memungkinkan siswa dapat mengembangkan potensi keterampilan berbicara  semaksimal mungkin. Adapun kegiatan belajar- mengajar  yang dilaksanakan harus senantiasa memberikan kesempatan kepada siswa untuk latih berbicara. sebagaimana  keterampilan berbahasa yang lain, keterampilan berbicara hanya dapat dikuasai dengan baik apabila si pembelajar diberi kesempatan untuk berlatih sebanyak banyaknya.
Dalam penilaian proses guru mencatat kekurangan dan kemajuan yang diperoleh siswa . hasil penilaian ini harus disampaikan kepada siswa secara lisan, secara motivasi siswa dalam berbicara, sasaran yang dicapai harus jelas. Informasi yang dicatat dalam penilaian merupakan umpan balik yang tidak ternilai bagi siswa.




B.   Rumusan masalah
Agar  lebih terarah dan terlaksana dapat dirumuskan rumusan permasalahnya yaitu sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan hakekat berbicara?
2. Sebutkan dan jelaskan bebepa jenis berbicara?
3. Faktor-faktor apa saja yang dinilai dalam berbicara?

C.   Tujuan penulisan
  Agar  lebih terarah dan terlaksana dapat dirumuskan tujuan penulisannya yaitu sebagai berikut :
1.  Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan hakekat berbicara .
2.  Untuk mengetahui jenis-jenis berbicara.
3.  Untuk mengetahui faktor-faktor apasaja yang dinilai dalam berbicara.



BAB II      
PEMBAHASAN

A.   HAKEKAT  KETERAMPILAN BERBICARA

Hakekat berbicara merupakan pengetahuan yang sangat fungsional dalam memahami seluk beluk berbicra. Bahasa adalah lambang bunyi yang diucapkan. kenyataan inilah yang menempatkan keterampilan berbicara itu sebagai keterampilan berbahasa yang utama. Para ahli linguistik menempatkan keterampilan berbicara seorang anak  (secara alamiah) menempatkan keterampilan berbicara (speaking) pada urutan kedua.ini berarti, sebelum keterampilan membaca dan keterampilan menulis anak terlebih dahulu harus dapat berbicara. Melalui keterampilan berbicaralah manusia pertama dapat memenuhi keperluan untuk berkomunikasi dengan lingkungan masyarakat tempat ia berada.
Komunikasi dapat berlangsung secara efektif dan efisien kalau menggunakan bahasa verbal, karna hakekat bahasa adalah ucapan. Proses pengucapan / pelafalan bunyi bahasa untuk berkomunikasi menyampaikan  informasi, keinginan, dan mengungkapkan gagasan dan perasan itulah sesungguhnya  hakekat keterampilan berbicara (Tarigen, 1993: 73-75).
Ø Tujuan belajar keterampilan berbicara  adalah agar para siswa :
a.      Mampu memenuhi dan menata gagasan dengan penalaran yang logis dan sistimatis
b.     Mampu menuangkan gagasan tersebut kedalam bentuk-bentuk tuturan yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
c.      Mampu mengucapkan dengan jelas dan lancar.
d.     Mampu memilih ragam bahasa Indonesia.

B.   JENIS-JENIS BERBICARA
Bila diperhatikan mengenai bahasa pengajaran akan kita dapatkan berbagai jenis berbicara. Antara lain: diskusi, percakapan, pidato menjelaskan, pidato menghibur, ceramah. Berdasarkan pengamatan ada lima landasan yang digunakan dalam mengklasifikasikan kegiatan berbicara  yaitu:

a)          Situasi
Aktivitas berbicara terjadi dalam suasana, situasi, dan lingkungan tertentu. Situasi dan lingkungan itu dapat  bersifat formal atau resmi, mungkin pula bersifat informal atau tak resmi. Dalam situasi formal pembicara dituntut berbicara secara formal, sebaliknya dalam situasi tak formal, pembicara harus berbicara tak formal pula. Kegiatan berbicara yang bersifat informal banyak dilakukan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Suksesnya suatu pembicaraan tergantung pada pembicara dan pendengar. Kegiatan berbicara yang bersifat informal banyak dilakukan dalam kehidupanmanusia sehari-hari, Untuk itu, diperlukan beberapa prasyarat.
v   Jenis kegiatan berbicara informal meliputi :
Ø Tukar pengalaman,
Ø Percakapan,
Ø Menyampaikan berita,
Ø Menyampaikan pengumuman,
Ø Bertelepon dan
Ø memberi petunjuk (Logan,  dkk., 1972 :108).
v   Sedangkan jenis kegiatan yang bersifat formal  meliputi :
Ø Perencanaan dan penilain
Ø Ceramah
Ø Interview
Ø Prosedur parlementer dan Bercerita (Logan, dkk., 1972: 116)
b)          Tujuan
Akhir pembicaraan, pembicara menginginkan respons dari pendengar. Pada umumnya tujuan orang berbicara adalah untuk menghibur, menginformasikan, menstimulasikan dan meyakinkan  atau menggerakan pendengarnya. Sejalan dengan tujuan berbicara tersebut di atas dapat kita klasifikasi berbicara menjadi 5 jenis, yaitu antara lain:
a.      Berbicara menghibur, biasanya suasana santai, rileks dan kocak. Tidak berarti bahwa berbicara menghibur tidak dapat membawakan pesan dalam berbicara menghibur tersebut pembicara berusaha membuat pendengarnya senang gembira dan bersukaria.
Contoh:
 Jenis berbicara ini, antara lain lawakan, guyonan dalam ludruk, srimulat, cerita kabayan, cerita Abu Nawas dan lain-lain.

b.     Berbicara menginformasikan. Dalam  suasana serius, tertib dan hening. Berbicara menginformasikan pembicara berusaha berbicara jelas, sistematis dan tepat isi agar informasi benar-benar terjaga keakuratannya.
Contoh:
1.  Penjelasan menteri Sekneg sehabis sidang kabinet
2.  Penjelasan menteri penerangan mengenai sesuatu kejadian, peraturan pemerintah, dan sebagainya.
3.  Penjelasan PPL di depan kelompok tani, dan
4.  Penjelasan instruktur pada siswanya.

c.      Berbicara menstimulasi, berbicara menstimulasi juga berusaha serius, kadang-kadang terasa kaku, pembicara berkedudukan lebih tinggi dari pendengarnya dapat disebabkan oleh wibawa, pengetahuan, pengalaman, jabatan atau fungsinya yang memang melebihi pendengarnya. Berbicara menstimulasi, pembicara berusaha membangkitkan semangat pendengarnya sehingga pendengar itu bekerja lebih tekun, berbuat lebih baik, bertingkah lebih sopan, belajar lebih berkesenambungan. Pembicara biasa dilandasi oleh rasa kasih sayang, kebutuhan kemauan, harapan, dan inspirasi pendengar.
Contoh:
1.        Nasehat guru terhadap siswa yang malas, melalaikan tugasnya
2.        Pepatah petitih, pengajaran ayah kepada anaknya yang kurang senonoh
3.        Nasehat dokter pada pasiennya
4.        Nasehat atasan pada karyawan yang malas dan
5.        Nasehat ibu pada putrinya yang patah hati
d.              Berbicara meyakinkan, sesuai dengan namanya, bertujuan meyakinkan pendengarnya, suasananya pun bersifat serius, mencekam dan menegangkan. Pembicara berusaha mengubah sikap pendengarnya dari tidak setuju menjadi setuju, dari tidak simpati menjadi simpati dari tidak mau membantu menjadi mau membantu. Pembicara harus melandaskan pembicaraannya kepada argumentasi dan nalar, logis masuk akal, dan dapat bertanggungjawabkan dari segala segi.
Contoh:
1.     Pidato petugas KBN didepan masyarakat yang anti keluarga berencana
2.     Pidato petugas Depsos pada masyarakat daerah kritis tetapi segan bertransmigrasi,
3.     Pidato pimpinan partai tertentu di daerah yang kurang menyenangi partai tersebut,
4.     Pidato calon kepala desa di daerah yang belum simpati padanya
5.     Pidato pimpinan BRI pada masyarakat yang lebih senang berhubungan dengan sengkulak.
e.               Berbicara menggerakkan, juga menuntut keseriusan baik dari segi pembicara maupun dari segi pendengarnya. .Pembicara dalam berbicara mendengarkan haruslah berwibawa, tokoh, idola, panutan masyarakat.
Misal:
-         Bung Tomo dapat membakar semangat juang para pemuda pada peristiwa 10 November 1945 di Surabay

f.            Metode penyampain
Bila belum, perhatikan empat (4) cara yang biasa digunakan orang dalam menyampaikan pembicaraannya, antara lain yaitu:
v Penyampaian secara mendadak, terjadi karena  seseorang tanpa direncanakan sebelumnya harus berbicara di depan umum. Hal ini dapat tertjadi karena tuntutan situasi.
Misal:
Karena pembicara yang telah direncanakan berhalangan hadir tampil, maka terpaksa secara mendadak dicarikan penggantinya atau dalam suatu pertemuan seseorang diminta secara mendadak memberikan kata sambutan, pidato perpisahan, dan sebagainya.
v Penyampaian berdasarkan cacatan kecil, biasanya berupa butir-butir penting sebagai pedoman berbicara. Berbasarkan catatan itu pembicara bercerita panjang lebar mengenai sesuatu hal. Hal ini dapat berhasil apabila pembicara sudah mempersiapkan dan menguasai isi pembicaraan secara mendalam sebelum tampil di depan umum.
v Penyampaian berdasarkan hafalan, berbicara berdasarkan hafalan memang banyak ke lemahannya, pembicara mungkin lupa  akan beberapa bagian dari isi pidatonya, perhatiannya tidak bisa diberikan kepada pendengar, kaku dan kurang penyesuaian pada situasi yang ada.
v Penyampain berdasarkan naskah. Berbicara yang berlandalandaskan naskah di laksanakan dalam situasi yang menuntut kepastian, bersifat resmi dan menyangkut kepentingan umum.

g.           Jumlah penyimak
Komunikasi lisan melibatkan dua pihak, yaitu pendengar dan pembicara. Jumlah peserta yang berfungsi sebagai penyimak dalam komunikasi lisan dapat bervariasi misalnya satu orang, babarapa orang  (kelompok kecil) dan banyak orang (kelompok besar). Berdasarkan jumlah penyimak itu, berbicara dapat di bagi atas tiga (3) jenis, yaitu:
a.      Berbicara antarpribadi, atau bicara empat mata, terjadi apabila dua pribadi membicarakan, mempercakapkan, merundingkan, atau mendiskusikan.
b.     Berbicara dalam kelompok kecil, terjadi apabila seseorang pembicara menghadapi sekelompok kecil pendengar, misanya 3-5 orang
c.      Berbicara dalam kelompok besar. Terjadi apabila seorang pembicara menghadapi pendengar berjumlah besar atau massa.

h.          Peristiwa khusus
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menghadapi berbagai kegiatan. Sebagian dari kegiatan itu dikategorikan sebagai peristiwa khusus, istimewahatau spesifik. Contoh kegiatan khusus itu adalah ulang tahun, perpisahan, perkenalan dan lain-lain. Berdasarkan peristiwa khusus itu berbicara atau berpidato dapat bigolongkan atas enam jenis.
v Pidato presentasi, ialah pidato yang dilakukan alam suasana pembagian hadiah
v Pidato penyambutan atau penyambutan berisi ucapan selamat datang pada tamu.
v Pidato perpisahan, berisi kata-kata perpisahan
v Pidato perkenalan, berisi penjelasan pihak yang memperkenalkan tentang nama, jabatan, pendidikan, pengalaman kerja, keahlian yang diperkenalka kepada tuan rumah.
v Pidato nominasi (mengunggulkan) berisi pujian, alasan, mengapa sesuatu itu diunggulkan. (Logan, dkk;1972: 127)
C.   FAKTOR-FAKTOR YANG DINILAI DALAM BERBICARA

Penilain keterampilan berbicara dapat dilakukan pada saat kegiatan pelajaran, yang disebut proses, dan setelah kegiatan pembelajaran yang disebut penilain hasil . Dalam penilaian proses guru mencatat kekurangan dan kemajuan yang diperoleh siswa . hasil penilaian ini harus disampaikan kepada siswa secara lisan, secara motivasi siswa dalam berbicara, sasaran yang dicapai harus jelas. Informasi yang dicatat dalam penilaian merupakan umpan balik yang tidak ternilai bagi siswa.
Mengingat kemampuan berbicara memerlukan latihan dan bimbingan yang intensif. Penilaian yang mengukur dan menilai sutu kegiatan saja, tetapi hendaknya berlanjut dan bertujuan meningkatkan keterampilan berbicara pada kegiatan berikutnya.

Ø   Faktor-faktor yang dinilai dalam berbicara:
1.     Faktor kebahasaan  yang mencakup
a.      Pengucapan vokal
b.     Penempatan tekanan
c.      Pilihan kata / ungkapan atau diksi
d.     Variasi kata
e.      Sruktur kalimat dan
f.       Ragam kalimat
2.     Faktor  nom kebahasaan yang mencakup :
a.      Keberanian dan semangat
b.     Kelancaran
c.      Gerak-gerik dan mimik
d.     Penguasaan topik
e.      Penalaran atau pemahaman / pengungkapan materi wacana.
Menurut Mulgrave (Tarigan, 1986: 22) menyatakan bahwa analisis mengenai proses inteluktual yang diperlukan untuk mengembangkan untuk kemampuan berbicara menunjukan perlunya pengaturan bahan bagi penampilan lisan, perlunya penggunaan ekspresi yang jelas dan efektif bagi komunikasi yang khusus tersebut, dan perlunya berbicara suatu keterampilan yang penuh seksama dan perhatian.


BAB III
PENUTUP
A.   KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan diatas saya dapat menarik kesimpulannya yaitu sebagai berikut :
Interaksi antara pembicara dan pendengar yang bersifat langsung dan ada pula yang tidak langsung.dan pembicara berusaha agar pendengar memahami atau menangkap makna apa yang disampaikan.
Belajar keterampilan berbicara harus dilaksanakan dengan menciptakan situasi belajar yang memungkinkan siswa dapat mengembangkan potensi keterampilan berbicara  semaksimal mungkin. Adapun kegiatan belajar-mengajar  yang dilaksanakan harus senantiasa memberikan kesempatan kepada siswa untuk latih berbicara. sebagaimana  keterampilan berbahasa yang lain, keterampilan berbicara hanya dapat dikuasai dengan baik apabila si pembelajar diberi kesempatan untuk berlatih sebanyak banyaknya.

Dan untuk itu diperlukan beberaa prasyarat kepada seseorang pembicara dan pendengar antara lain yaitu:
1.     Menguasai masalah yang dibicarakan. Penguasaan masalah akan membutuhkan keyakinan kepada diri pembicara, sehingga akan menimbulkan rasa percaya diri yang merupan modal utama bagi pembicara.
2.     Mulai berbicara jika situasi memungkinkan. Sebelum mulai pembicaraan, hendaknya pembicara memperhatikan situasi seluruhnya,khususnya pendengar.bila pendengar sudah siap baru mulai berbicara.
3.     Pengarahan yang tepat akan dapat memancing perhatian pendengar. Sesudah memberikan kata salam dalam membuka pembicaraan, seorang pembicara yang baik akan menginformasikan tujuan ia berbicara dan menjelaskan pentingnya pokok pembicaraan itu bagi pendengar.


DAFTAR  PUSTAKA
Tarigen, Henry Guntur. Psiko Sastra : Telah Hakekat Berbicara. Malang.
Tarigan, Diago. (1994). Keterampiln Berbahasa Indonesia. Rineka Cipta: Jakarta
http : //www.adhys.blokspot.com/2010/10/ berbicara.html.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar